Showing posts with label Fikrah. Show all posts
Showing posts with label Fikrah. Show all posts

Sunday, 19 October 2008

10 Ciri-ciri Peribadi Muslim-Hasan al-Banna

Hasan al-Banna adalah tokoh besar dalam sejarah dakwah. Beliau pernah menggariskan 10 ciri-ciri penting dalam usaha pembentukan peribadi Muslim. Moga Allah sentiasa merahmati beliau dan memberi kekuatan untuk setiap dai yang mengambil suntikan motivasi perjuangan beliau. Semalam saya telah turun berkempen. Berkempen kepada anak-anak didik saya. Berkempen untuk dipraktikkan 10 ciri-ciri peribadi Muslim. Berkempen untuk melahirkan peribadi-peribadi unggul, yang bakal mencorakkan masa depan ummah dan negara....

Saya telah berkempen di sini hampir dua tahun, langkah seterusnya adalah untuk melihat kefahaman ini diterjemahkan, diparaktikkan dengan semaksima yang mungkin...

10 CIRI-CIRI PERIBADI MUSLIM

1. Salimul Aqidah.

Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya:'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam' (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah sallallah ‘alahi wasallam mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

2. Shahihul Ibadah.

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul sallallah ’alaihi wasallam yang penting, dalam satu hadisnya; beliau menyatakan: 'solatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku solat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul sallallah ’alaihi wasallam yang bererti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq.

Akhlak yang kukuh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah mahupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah sallallah ’alaihi wasallam ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur'an, Allah berfirman yang artinya: 'Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung' (QS 68:4).

4. Qowiyyul Jismi.

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani bererti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fizikalnya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fizikal yang sihat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesihatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim, dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengubatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim selalu dalam keadaan lemah dan kesakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk perkara yang penting, maka Rasulullah sallallah alaihi wasallam bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim).

5. Mutsaqqoful Fikri.

Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fathonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang ertinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.' Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.'Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktiviti berfikir. Untuk itu seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Biasakah kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang ertinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapatmenerima pelajaran (QS 39:9).

6. Mujahadatun Linafsihi.

Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada dengan seseorang itu berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah sallallah ’alaihi wasallam bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

7. Harishun 'ala Waqtihi.

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah s.w.t banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanfaatkan waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi sallalla ‘alaihi wasallam adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syu'unihi.

Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama,maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kesinambungan dan penguasaan ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

9. Qodirun 'alal Kasbi.

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur'an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Naafi'un Lighoirihi.

Bermanfaat bagi orang lain (nafi'un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing. Jazakumullah Khairan Kathira!

Renungan Buat Du'at Muda Yang Penuh Semarak Perjuangan

Buat du’at muda yang penuh semarak perjuangan, anak-anak didik yang sedang menempuh jalan dakwah dan perjuangan yang panjang. Bingkisan ini tidaklah disampaikan melainkan dengan perasaan kasih-sayang, ukhuwwah dan doa semoga kita semua sentiasa berada dalam rahmat dan redha Allah azza wajalla.

Kematangan Bukan Pada Umur, Tetapi Pada Cara Berfikir Dan Bertindak.

Dalam menjalankan kewajipan dakwah, seorang dai’ akan bertemu dengan pelbagai ragam manusia. Kepelbagaiaan ragam tersebut menuntut dai’ supaya sentiasa bersabar dan bersabar. Sikap al-‘ajalah’, terburu-buru bukanlah sikap seorang da’i. Kematangan seorang da’i pada bukanlah diukur pada tahap umur, tetapi pada cara berfikir dan bertindak.

Mengawal Semarak Dengan Disiplin Ilmu

Kebiasaannya usia muda merupakan usia yang berkobar-kobar. Semangat perjuangan itu merupakan sesuatu perkara yang positif dalam jiwa seorang dai. Namun tanpa panduan dan disiplin ilmu semarak tersebut mungkin tersasar mengikut amarah nafsu. Dengan keadaan yang sedemikian pihak yang bertentangan atau lawan mampu menggunakannya untuk tujuan provokasi. Teori ini bukan teori baru, ia telah kerap kali digunakan oleh gerakan kerahsiaan barat dengan membangkitkan kemarahan umat Islam untuk melihat mereka melatah dan akhirnya bertindak secara agresif dan melulu. Natijah dari tindakan agresif tersebut menjadi alasan untuk mereka mengapa gerakan Islam perlu dilenyapkan.

Kata Khalifah Umar Abd Aziz: ‘Sesiapa yang beramal tanpa ilmu, maka sesugguhnya apa yang merosakkannya itu adalah lebih banyak dari apa yang membawa kebaikan’ . Atas prioriti ( aulawiyyat ) ilmu mendahului amal, al-Imam al-Bukhari menyusun satu bab dalam kitabnya, ‘Bab al-Ilm Qabl al-Qaul wal al-Amal’, bab ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. Menyedari hakikat ini al-Imam Hasan al-Banna meletakkan rukun al-Fahm sebagai rukun pertama mendahului rukun amal. Buat du’at perkara ini amatlah wajar diteliti.

Menilai Antara Perkara Prinsip Dan Isu

Dalam konteks yang lebih kecil, saya ingin fokuskan kepada anak-anak didik saya yang sedang bergerak dalam persatuan-persataun atas nama perjuangan Islam, samada di kampus universiti mahupun sekolah. Kegagalan menilai antara perkara prinsip dan isu merupakan sebahagian dari lompang-lompang kecacatan dalam menilai kematangan sebuah gerakan pelajar. Prof. Abdullah Hasan sering mengulang-ulang tentang parkara prinsip dan isu ini dalam beberapa bukunya, ini kerana kebanyakkan perkara isu masih memiliki ruang perbincangan dan perundingan, berbanding perkara prinsip yang mesti dipertahankan. Maka ada perkara prinsip yang mesti dipertahankan, dan ada perkara isu yang menuntut kita lebih matang mencari jalan perundingan.
Dari kesimpulan Prof Abdullah Hasan tadi dapat saya ceraikan satu permasalahan baru iaitu apakah perkara-perkara prinsip yang mesti menjadi teras perjuangan seorang da’i, dan apakah perkara-perkara isu yang perlu seorang da’ itu bersikap toleransi. Mengambil jalan penentangan untuk perkara isu sedangkan boleh ditemui jalan perundingan adalah tindakan kurang bijak yang mencerminkan kecetekan ilmu dan kebijaksanaan.Untuk perkara ini para du’at perlu menyemak kembali manhaj dakwah para nabi dan rasul. Menelaah sirah amatlah mustahak kepada seorang da’i supaya perjuangan berjalan di atas landasan yang betul seiring dengan manhaj para rasul dan nabi. Tanpa panduan manhaj yang betul di bawah petunjuk wahyu al-Quran dan as-Sunnah manusia akan menghukum mengikut logik akal semata-mata. Antara persoalan yang perlu dilontarkan kepada diri, apakah sandaran atau dalil menyebabkan kita bermati-matian memepertahankan sesuatu perkara, dan apakah kesan jangka pendek dan jangka panjang dengan tindakan kita kepada Islam dan umatnya.

Dakwah Antara Penerimaan dan Penentangan

Mesej dakwah yang suci perlu dibawa oleh jiwa-jiwa yang suci. Hati-hati yang ikhlas dan tidak mempunyai sebarang kepentingan. Kesediaan ini menuntut kesabaran yang utuh dalam jiwa seorang da’i. Dakwah samada diterima atau ditentang, pembawanya tetap sabar dalam menempuh ujian. Penerimaan atau penentangan bukanlah bukti benarnya sesuatu seruan dakwah. Kebenaran dakwah adalah kerana manhajnya di bawah lembayung al-Quran dan as-Sunnah, kebenarannya ialah kerana manhajnya seiring dengan manhaj para nabi. Maka dengan itu, dai tidak boleh tertipu dengan ramainya penerimaan orang terhadapnya, dan da’i juga tidak boleh tertipu dengan penentangan orang terhadapnya, kerana keduanya bukanlah ukuran kebenaran. Perkara ini perlu diingatkan kerana manusia sering tertipu dengan menganggap perjuangannya benar disebabkan penerimaan ramai. Dan tidak kurang juga yang tertipu mengganggap bahawa perjuangannya benar disebabkan sentiasa menerima tentangan. Atas sebab pertama manusia boleh menjadi lupa diri dan menganggap dirinya benar. Dan atas sebab yang kedua ramai yang berjuang dengan bersifat lebih menentang dan bukannya berdakwah.

Sistem Pembentukan Generasi al-Quran.

Untuk pembentukan generasi al-Quran. Para Da’i perlu kembali kepada manhaj al-Quran dan as-Sunnah. Merenung kerap sirah. Dukacita apabila saya mendengar ada yang menyatakan bahawa itu zaman nabi, tidak boleh disamakan dengan zaman kita, zaman kita kena lebih agresif. Untuk itu kita serahkanlah pada manhaj masing-masing. Barangsiapa yang ingin bersama para rasul nabi maka jalan mereka perlu disusuri. Manhaj ini buat pemuda yang dahaga lahirnya kegemilangan baru, buat pewaris generasi pejuang yang pernah mengukir sejarah agung, serta buat mereka yang ingin membawa risalah ini dengan penuh kejujuran, kesabaran dan melihat ummah dengan perasaan rahmah dan kasih-sayang.

Pandangan Sinis Mengatakan Mengaharap Keajaiban Dengan Kesederhanaan dan Kesabaran.

Sebahagian teman yang berkobar-kobar memandang sinis method kesederhanaan dengan berkata: Bagai mengaharap keajaiban perubahan akan berlaku dengan kesederhanaan’. Dan kami memandang, kesederhanaan dan kesabaran itulah keajaiban dalam perjuangan para nabi. Dari didikan baginda lahirlah peribadi-peribadi yang disayangi teman dan disegani lawan. Mempertahankan mesti pada perkara-perkara prinsip, bukan agresif secara teburu-buru. Dalam kerendahan diri ada sifat tawaddhu’ dan izzah. Untuk kesabaran dan ketabahan ini, tersembunyinya keajaiban, apakah yang menyebabkan mereka mampu bertahan dan adil dalam membuat penilaiaan. Ianya kembali kepada satu kekuatan iaitu IMAN. Rasanya wajar untuk kami sajikan kembali ucapan Imam as-Syahid Hasan al-Banna sebagai renungan:

‘Wahai Ikhwan al-Muslimin, terutama kepada mereka yang bersemangat dan gopoh, degarlah kata-kata saya yang bergema dari atas pentas dalam perhimpunan agung ini. Segala langkah dan sempadan dalam jalan kamu ini telahpun digariskan. Saya tidak akan melanggar sempadan ini yang saya sendiri yakini sepenuhnya bahawa ia adalah jalan yang paling selamat untuk sampai ke matlamat. Benar, jalan ini mungkin jauh namun tiada jalan lain selain jalan ini. Kejantanan akan terserlah melalui keupayaan untuk bersabar, tabah, gigih dan usaha yang berterusan. Sesiapa di kalangan kamu yang terlalu cepat mahu mengutip hasil sebelum tempoh matang atau memetik bunga sebelum masanya, maka saya tidak akan bersetuju sama sekali. Lebih baik dia berundur dari dakwah ini kepada gerakan lain. Sesiapa yang mampu bersabar dengan saya hingga benih ini berkembang, tumbuh sebagai pokok, mengeluarkan buah yang baik dan tiba masa untuk memetiknya maka kesabarannya akan diberi ganjaran oleh Allah. Kita akan memperolehi salah satu daripada ganjaran berikut iaitu kemenangan dan ketuanan atau mati syahid dan kebahagiaan yang abadi’

Pelajaran Untuk Setiap Generasi.

Ketika saya pernah melontarkan muhasabah ini kepada seorang bekas anak didik saya, katanya zaman tidak sama, zaman yang sedang kami lalui tidak sama seperti yang ustaz telah lalui. Sememangnya zaman tidak sama, namun tuhan mencipta tabiat manusia mempunyai kecenderungan dan fitrah yang hampir serupa. Dengan itu al-Quran selalu menyeru, ‘Fa’tabiru Ya Ulil Absor’, dan ambillah iktibar wahai orang yang berfikir, dalam memberi makna ‘Fa’tabiru’ sebahagian ulama usul menafsirkannnya sebagai ‘Faqisu’ yang bermaksud maka kiaskanlah, kiaskanlah peristiwa yang lalu itu terhadap diri kamu, mudah-mudahan kamu beroleh peringatan dan pelajaran. Sesiapa yang sering meneliti sejarah akan mendapati benarnya kalamullah tadi. Anak adam adalah insan yang tetap sama tabiatnya di setiap zaman. Mukmin yang sedar sentiasa melihat perkara lalu sebagai pelajaran bernilai untuk kehidupan hari ini. Sifat ‘ekstrem’ dan melampau bukanlah dari ciri-ciri sifat seorang dai’.

Awas Penyakit Futhur.

Futhur ialah berhenti selepas penat berkerja, al-Quran pernah menggunakan kalimah futhur ini dalam menyifatkan tabiat malaikat, ‘yusabbihun al-lail wa an-nahar wa hum la yafthurun’, mereka bertasbih malam dan siang dan mereka tidak pernah futhur ( behenti /penat ). Manakala futhur dalam jalan dakwah bererti berhenti selepas kuat bersemangat pada awalnya. Ketika membincangkan tajuk ‘futhur’ ini seorang sahabat saya menceritakan kisah pengalamannya bersama seorang sahabatnya di kampus dahulu. Seorang yang bersemangat pada awalnya, sentiasa berani, ingin bersuara dan menentang, menolak sebarang bantuan pinjaman dari pihak berwajib. Ia cuma bertahan sekadar beberapa semester. Setelah gagal peperiksaan dia terpaksa mengulang semula, memohon kembali pinjaman yang ditentangnya, akhirnya berhenti senyap dari memberi apa-apa sumbangan yang dianggapnya dulu perjuangan.

Bagi sebahagian yang memandang serong terhadap nasihat kami, kami ingin nyatakan bahawa nasihat ini datang dari hati-hati yang menyayangi kalian, dan hati-hati ini sentiasa berdoa untuk kalian. Bersabarlah dalam menimba pengalaman di sepanjang jalan dakwah yang panjang. Kebijaksanaan merupakan mutiara yang tersembunyi. Sesiapa yang menemuinya maka dia merupakan insan yang dikurniakan dengan nikmat yang besar. Maka benarlah firmanullah yang bermaksud:

‘Dan sesiapa yang dikurniakan dengan ‘al-hikmah’, maka dia dikurniakan dengan kebaikan yang banyak’

Wednesday, 15 October 2008

Remaja & Pemikiran Reaktif

Sumber:Bicara Agama, Utusan Online --27 Julai 2006 --- 2 Rejab 1427
Reaktif
Reaktif bermaksud tindak balas terhadap sesuatu yang berlaku. Sesuatu yang berlaku menyebabkan manusia terusik dan melakukan tindakbalas. Tindak balas yang berlaku selalunya bersifat spontan tanpa pemikiran dan kajian yang mendalam. Sikap reaktif selalunya berkait rapat dengan keadaan emosi seseorang. Sekiranya emosi seseorang tidak stabil, tindak balas akan menjadikan keadaan atau sesuatu itu tidak stabil. Kalau emosinya resah dan kacau jalan berfikirnya penuh dengan kekacauan. Faktanya mungkin tidak lengkap. Analisisnya tidak tepat. Kesimpulan yang diambil juga tidak membayangkan adanya pemikiran yang mendalam terhadap sesuatu isu atau perkara.

Berfikir Reaktif Boleh Membawa Kepada Kegopohan

Berfikir dalam suasana gopoh boleh menyebabkan kesilapan berlaku. Orang yang berfikir reaktif cepat membuat kesimpulan. Kadang-kadang mengambil pendekatan menghukum lebih daripada pendekatan memahami mengapa ia berlaku, bagaimana mengatasinya dan faktor-faktor apa yang boleh memberikan alternatif terhadap isu atau masalah yang berbangkit. Berfikir reaktif menjadikan sesuatu keputusan yang dibuat dalam keadaan tidak masak atau separuh masak. Ia kadang-kadang membudaya pada diri seseorang. Bila menghadapi sesuatu masalah, mendepani sesuatu isu, mengalami sesuatu kebuntuan, ia tidak berfikir secara kritikal, strategik ataupun kreatif sebaliknya melakukan sesuatu berasaskan apa yang terlintas pada minda dan emosi dan kadang-kadang ledakan minda dan emosi menyebabkan keadaan menjadi lebih bercelaru.

Dalam tradisi Islam kestabilan minda dan celik emosi adalah asas yang sangat penting bagi seseorang manusia. Cerdas akal saja tidak cukup. Ia memerlukan kecelikan emosi (emotionally literate) untuk mengenal, memahami, membuat pertimbangan yang terbaik supaya penyelesaian kepada masalah dan jawapan terhadap isu berada di tahap yang terbaik. Ajaran Islam memberitahu kita sekiranya kita mendapat perkhabaran daripada orang yang fasik, sila periksa terlebih dahulu sama ada perkhabaran itu benar atau salah. Rasulullah s.a.w. apabila menerima perintah Allah untuk berpindah dari Mekah ke Madinah, baginda tidak bersifat emosional atau reaktif. Sebaliknya Rasulullah merancang strategi bijaksana hingga akhirnya baginda selamat sampai ke Madinah.

Idealisme di tahap tinggi.

Para remaja pada tahap umur muda berada dalam tahap kesuburan emosi yang tinggi dan idealisme yang hebat. Kesuburan emosi yang tidak diimbangi dengan ilmu dan pengalaman boleh menyebabkan remaja bersikap reaktif dan kadang-kadang melampaui batas. Idealisme yang hebat kadang-kadang menjadikan remaja mendekati sesuatu isu secara hitam putih. Lalu jalan mudah adalah menghukum dan melakukan labelling atau mengecap seseorang dengan sesuatu yang jelik. Kepuasan emosi yang sifatnya amarah menjadi kepuasan baginya tetapi jelik bagi orang lain. Tidak salah remaja membina idealisme dalam hidupnya. Hasil berfikir, membaca dan memerhati, remaja tidak dapat mengelakkan diri daripada bersikap ideal. Jiwa berontak yang ada pada remaja kadang-kadang menuntut jalan keluar dan alternatif yang gopoh. Tetapi idealisme yang ada pada remaja harus diimbangi dengan keupayaan memahami realiti. Realiti adalah medan sebenar remaja membaca masalah, mengkaji isu, meneliti sebab-musabab dan memikirkan jalan keluar yang terbaik dan bijaksana. Remaja tidak hanya bersikap reaktif lalu keputusan yang dibuat selalunya bersikap melulu dan membawa akibat yang sebaliknya. Menjadikan idealisme sebagai sumber memahami faktor-faktor dalam realiti sebagai asas memahami masalah, ia membolehkan remaja bersikap matang dan dewasa. Kematangan dan kedewasaan di sini merujuk kepada kekuatan ilmu, analisis yang tepat dan keputusan yang berwibawa. Menjadikan realiti sebagai asas tanpa didukung oleh idealisme, ia boleh menyebabkan keputusan kehilangan arah.

Ibarat bunga kiambang

Idealisme dan realiti ibarat bunga kiambang yang cantik di permukaan tetapi akarnya tidak terjunam pada lumpur. Bila ditolak arus ia mungkin hanyut. Pemikiran remaja yang reaktif juga boleh berlaku sedemikian. Idealisme yang tinggi tanpa pedoman memahami realiti boleh mendorong para remaja berfikir emosional dan gopoh. Para remaja harus menjadi seorang yang idealis sekali gus realis, baru pedoman terbaik dalam pemikiran memandu remaja ke arah memahami realiti. Hal yang sama juga perlu dalam konteks seorang remaja yang realis atau terpikat dengan aliran realiti yang harus juga memiliki idealisme yang baik supaya ia memiliki pedoman dan arah.


Para remaja adalah tenaga yang berpotensi untuk membangun negara. Salah satu cabaran yang bakal dihadapi oleh remaja adalah menghubungkan nilai-nilai baik dengan realiti yang serba bejat atau pincang.Remaja tidak boleh mengelak diri daripada menghadapi faktor hidup dan kehidupan yang dinamik berubah. Remaja juga adalah tenaga modal insan yang amat berpotensi bagi menentukan hala tuju pembangunan umat yang lebih terarah. Reflektif terhadap kehebatan tamadun silam semata-mata tidak memadai untuk membuat kesimpulan mengapa umat Islam hari ini tidak menjadi hebat seperti yang berlaku pada masa yang lalu. Kalau dulu boleh mengapa hari ini tidak boleh. Lalu, para remaja cuba menggunakan berfikir reaktif iaitu menghukum realiti hari ini dengan mengambil contoh masa silam. Contoh masa silam memenuhi prasyarat yang diperlukan untuk membina tamadun. Ketika puncak tamadun silam, ulama dan umara’ (pemimpin) melakukan sinergi atau kerjasama erat, ilmuan meneroka dan membangunkan ilmu yang sifatnya integratif, tradisi pengkaryaan berkembang dalam keadaan yang luar biasa dan keterbukaan untuk belajar daripada sumber-sumber tamadun yang bermanfaat daripada orang lain. Tetapi realiti hari ini dalam dunia Islam tidak begitu. Berfikir reaktif terhadap apa yang ada dengan menghubungkan kekuatan silam yang memenuhi prasyarat tamadun menyebabkan kita mengambil pendekatan hitam putih dan ia tidak membawa kita ke mana- mana.

Ummat Pengguna atau Ummat Penyumbang?

Para remaja harus mempersiapkan diri dengan ilmu. Ilmu Barat dan Timur yang berkembang harus dipelajari. Ada faedah berbanding yang boleh diambil daripada sumber-sumber tersebut. Islam tidak mengambil sikap anti-Barat semata-mata kerana mereka adalah Barat. Umat Islam harus hati-hati tentang proses pembaratan yang sedang berjalan. Berfikir reaktif menyebabkan apa saja yang berlaku di Barat menjadi contoh kepada kita. Ia meletakkan diri kita sebagai umat pengguna bukan umat penyumbang. Berfikir reaktif di kalangan remaja menjadikan ukuran Barat sesuatu yang hebat. Pakaian cara Barat melambangkan kemajuan dan kemodenan. Hiburan cara Barat boleh menghilangkan resah dan tekanan diri. Malah terdapat remaja yang menganggap Islam sebagai kolot, menyekat kemajuan dan tidak maju seperti Barat maju. Untuk menjadi maju, remaja mesti berfikiran liberal, harus memerdekakan diri dari belenggu agama supaya hidup lepas bebas menjadikan remaja maju. Ini sikap reaktif melulu yang menyebabkan remaja Islam terus terjebak dengan perangkap pembaratan dalam pelbagai bentuk dan dimensi. Tidak celik hati Memberi reaksi terhadap sesuatu perkara adalah baik. Ramai di kalangan remaja pada hari sudah mewarisi penyakit mati rasa dan tidak celik hati. Akalnya mungkin cerdas tetapi hatinya tidak celik. Ia menyebabkan sebahagian dari remaja membina gaya hidup dengan mengikut arus, dibelenggu oleh perkembangan fesyen, memperagakan bakat dan kebolehan secara negatif dan akhirnya tidak menyumbang apa-apa untuk pembangunan diri dan juga masyarakat. Sebahagiannya menjadi beban kepada negara.


Reaktif terhadap sesuatu mestilah diikuti dengan pemahaman yang baik terhadap punca, sebab dan jalan mengatasinya. Pendekatan sebegini boleh menjadikan remaja tidak gopoh dalam membuat sesuatu keputusan atau kesimpulan. Mereka juga sentiasa dipandu oleh data dan fakta, pemahaman yang baik antara idealisme dan realiti, memiliki pemikiran strategik dan reflektif mendekati sesuatu masalah dan akhirnya mempunyai perancangan yang rapi dan teliti bagaimana sesuatu isu dapat ditangani dengan bijaksana dan sesuatu masalah dapat diselesaikan dengan baik. Inilah asas pemikiran proaktif yang patut dikembangkan di kalangan remaja.

PROF. DR. SIDEK BABA ialah pensyarah di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) Gombak